Dinas Sosial DIY Gelar Sarasehan Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Di Caturtunggal

04 Agustus 2025
Administrator
Dibaca 4 Kali
Dinas Sosial DIY Gelar Sarasehan Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Di Caturtunggal

Sleman – Dalam rangka memperkuat nilai-nilai kesetiakawanan sosial di tengah tantangan degradasi sosial, moral, dan budaya, Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan Sarasehan “Penguatan Nilai-Nilai Kesetiakawanan melalui Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial” pada Senin (4/8), bertempat di Pendopo Puspadenta, Caturtunggal, Depok, Sleman.

Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta dari berbagai unsur tokoh masyarakat dan lembaga strategis di tingkat kecamatan dan kelurahan, di antaranya Panewu, Danramil, Kapolsek, Lurah, Babinsa, Babinkamtibmas, tokoh perempuan, serta pilar-pilar sosial seperti Karang Taruna, PSM, dan WKSBSM.

Acara diawali dengan penampilan seni tradisional Campursari “Purbo Laras”, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, serta sambutan dari Lurah Caturtunggal dan perwakilan Dinas Sosial DIY.

Sarasehan inti menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidang sosial dan budaya, yaitu:

•           Yari Kurnia Kustanto, S.E. (Anggota DPRD DIY, Komisi D),

•           Prof. Dr. H. Suwarno Dwijonagoro, M.Pd. (Guru Besar Bidang Sosial Budaya),

•           Drs. Eko Darmanto, M.Si. (Praktisi Sosial/Yayasan Sosial),

serta pejabat dari Panewu, Kapolsek, dan Danramil Depok.

Dalam paparannya, para narasumber menekankan pentingnya revitalisasi nilai-nilai luhur bangsa, seperti gotong royong, kepedulian sosial, keikhlasan dalam membantu sesama, dan semangat pantang menyerah, sebagai bagian dari karakter bangsa yang mulai memudar di era modernisasi.

Kepala Dinas Sosial DIY, yang diwakili oleh Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial, Tri Susilastuti menyampaikan bahwa restorasi sosial merupakan strategi penting untuk memulihkan solidaritas dan membangun kembali kepercayaan sosial di masyarakat. Pendekatan budaya lokal, khususnya budaya Jawa, dianggap efektif karena memiliki kedekatan emosional dan historis dengan masyarakat Yogyakarta.

Sarasehan berlangsung interaktif dan partisipatif, serta ditutup dengan penekanan komitmen bersama untuk mengimplementasikan nilai-nilai kesetiakawanan sosial dalam kehidupan sehari-hari. (oktaviana)